Rabu, 24 Oktober 2018

MAKALAH MANAJEMEN USAHA TANI STUDI KASUS ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI BUDIDAYA TANAMAN TOMAT

MAKALAH MENEJEMEN USAHA TANI
STUDI KASUS ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANI BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Solanum Iycopersicum )

OLEH :

OKTOVIANUS BASSAY                           12355211150036
ORVI MADUNDANG                                 12355211150016
WULANDARI                                              12355211150054
MUSTAKIM                                                 12355211150115
MARDIANI MUYU                                     12355211150114
AWEN OLICI KOTU                                  12355211160101








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
SEKOLAH TINGGI PERTANIAN KEWIRAUSAHAAN (STPK) BANAU
HALMAHERA BARAT
2017













KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya kami bisa menyelasaikan laporan praktikum studi kasus tentang tanaman Tomat dan di kenal dengan nama Solanum Iycopersicum yang berada di desa Gulakusuma lebih tepatnya di Transmigrasi Goal. Kami berharap dalam kegiatan studi kasus ini semoga dapat bermanfaat bagi rekan-rekan semua, baik itu para mahasiswa maupun masyarakat luas.
Walaupun laporan ini sudah dibuat sedemikian rupa, kami menyadari bahwa penulisan laporan praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini kedepan.
Semoga dengan laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan menambah pemahaman serta pengalaman dalam melakukan kegiatan praktikum kedepan.





Jailolo, Juni 2017

                                  Penulis














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................      
DAFTAR ISI..............................................................................................      
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................      
1.1 latar belakang................................................................................     
1.2 tujuan.............................................................................................      
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................      
2.1 Usaha Tani.....................................................................................      
2.2 Biaya...............................................................................................      
2.3 Produksi.........................................................................................      
2.4 Penerimaan....................................................................................     
2.5 Pendapatan....................................................................................      
2.6 RC Ratio........................................................................................      
2.7 BC Ratio.........................................................................................      
2.7 BEP Ratio......................................................................................      
BAB III METODOLOGI..........................................................................      
3.1 Waktu dan Tempat.......................................................................      
3.2 Alat dan Bahan.............................................................................      
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................      
4.1 Faktor Produksi dan Produksi Tomat........................................      
4.2 Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan....................................      
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN....................................................      
5.1 Simpulan........................................................................................      
5.2 Saran..............................................................................................      
DAFTAR PUSTAKA................................................................................      
                                                         










BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia adalah Negara Agraris yang sebagaian besar penduduknya terdiri dari dari petani sehingga sektor pertanian memegang peranan penting. Sektor pertanian sebagai sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk terutama bagi mereka yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani. Selain itu sektor pertanian, salah satu  hal penting yang harus diperhatikan sebagai penyedia pangan bagi masyarakat. Peningkatan produksi yang harus seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk dapat dicapai melalui peningkatan pengelolaan usaha tani secara intensif. Oleh karena itu, pengetahuan tentang cara pengusahaan suatu usahatani mutlak dibutuhkan agar dapat meningkatkan produktifitas serta dapat meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan petani dapat meningkat.
Pengorganisir usahatani adalah petani sendiri dibantu oleh keluarganya dan tenaga luar. Penggunaan tenaga luar dikhususkan untuk kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang lebih dari potensi tenaga kerja yang dimiliki petani sedangkan yang diorganisir sendiri adalah faktor-faktor produksi yang dikuasai atau yang dapat dikuasai. Selain itu usahatani ini hanya dilaksanakan pada areal sempit, hal ini dikarenakan terbatasnya faktor modal dan kebanyakan petani sudah merasa puas apabila hasilnya sudah dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehingga didalam Ilmu Usaha tani ini, analisis biaya dirasa cukup penting, karena tiap petani dapat menguasai pengaturan biaya produksi dalam usahataninya tetapi tidak mampu mengatur harga komoditi yang dijualnya atau memberi nilai kepada komoditi tersebut. Harga-harga ditentukan oleh berbagai faktor yang ada didalam usahatani termasuk pula faktor-faktor diluar usaha tani.
Secara garis besar, besarnya pendapatan usaha tani diperhitungkan dari pengurangan besarnya penerimaan dengan besarnya biaya usaha tani tersebut. Penerimaan suatu usahatani akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti luasnya usaha tani, jenis dan harga komoditi usaha tani yang diusahakan, sedang besarnya biaya suatu usaha tani akan dipengaruhi oleh topografi, struktur tanah, jenis dan varietas komoditi yang diusahakan, teknis budidaya serta tingkat teknologi yang digunakan.
Buah tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran yang cerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buah tomat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diantaranya adalah sebagai sumber vitamin. Buah tomat sangat baik untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti sariawan karena mengandung vitamin C. Selain sebagai buah segar yang langsung dapat konsumsi, buah tomat juga dapat digunakan sebagai bahan penyedap berbagai macam masakan seperti sop, gado-gado, sambal, dan juga dapat dijadikan bahan industri untuk dikonsumsi dalam bentuk olahan, misalnya untuk minuman sari buah tomat, es juice tomat, dan konsentrat. Berbagai macam kegunaan tersebut dapat memberikan keuntungan, baik bagi konsumen, produsen, maupun masyarakat pada umumnya.
Potensi pasar buah tomat juga dapat dilihat dari segi harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga membuka peluang yang lebih besar terhadap serapan pasar (Cahyono,1998).
Menurut Soeharjo dan Patong (1994), pada beberapa daerah di Indonesia, petani belum mampu mengambil keputusan ekonomis yang menguntungkan. yang dimaksud adalah kemampuan petani dalam menentukan, mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif mungkin agar produksi pertaniannya memberikan fungsi yang lebih baik dan lebih menguntungkan.

1.2  Tujuan
Tujuan dari laporan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui besarnya biaya produksi.
2.      Mengetahui pendapatan usahatani tomat di Desa Gulakusuma Kec.Sahu Timur Kab.HALBAR.
3.      Menambah pengetahuan mahasiswa tentang cara membudidaya tomat.




BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Tani
Usaha Tani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian, seperti sinar matahari, tubuh tanah, dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan terhadap tanah tersebut, dan bangunan-bangunan yang telah didirikan di atasnya atau Usaha tani adalah suatu organisasi produksi dimana petani sebagai pelaksana mengorganisasi alam, tenaga kerja dan modal ditunjukkan pada produksi di sektor pertanian, baik berdasarkan pada pencarian laba atau tidak. Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam atau memelihara ternak. Usahatani yang produktif adalah usahatani yang produktivitasnya tinggi. Produktivitas merupakan penggabungan antara efisiensi usaha (fisik) dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik ini mengukur banyaknya hasil produksi yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input.
Biaya usahatani terbagi atas tiga kategori, yaitu:
Biaya alat-alat luar yaitu semua pengorbanan yang diberikan dalam usaha tani untuk memperoleh pendapatan kotor, kecuali bunga seluruh aktiva yang dipergunakan dan biaya untuk kegiatan pengusaha (keuntungan pengusaha) dan upah tenaga keluarga sendiri.
2.      Biaya mengusahakan yaitu biaya alat-alat luar ditambah dengan upah tenaga keluarga sendiri, yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan kepada tenaga luar.
3.      Biaya menghasilkan yaitu biaya mengusahakan ditambah dengan bunga dari aktiva yang dipergunakan dalam usahatani.
Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya (pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkannya. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi dan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi, sedangkan total penerimaan diperoleh dari produksi fisik dikalikan dengan harga produksi.
Tujuan usaha tani adalah diperolehnya produksi setinggi mungkin dengan biaya serendah-rendahnya. Usahatani yang baik adalah usahatani yang produktif  dan efisien. Usahatani yang produktif adalah usahatani yang memiliki produktifitas tinggi, yang ditentukan oleh penggunaan faktor produksi pertanian atau input seperti bibit, tenaga kerja, modal dan faktor-faktor produksi lainnya. Usahatani yang efisien adalah usahatani yang secara ekonomis menguntungkan, biaya dan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan untuk produksi lebih kecil dari harga jual atau hasil penjualan yang diterima dari hasil produksi (Mubyarto, 1995).
Menurut Hernanto (1996), petani adalah manajer dalam kegiatan usahataninya. Usahatani mempunyai empat unsur pokok yaitu tanah, tenaga kerja, modal, dan manajemen. Pengoptimalan faktor tersebut penting untuk mendapatkan usahatani yang efisien dan menguntungkan. Sistem usahatani mulai bergeser dari subsisten yang hanya untuk pemenuhan kebutuhan keluarga menjadi komersial untuk memperoleh keuntungan yang tinggi demi mencapai pendapatan yang layak.

2.2 Biaya
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi  atau Biaya merupakan pengorbanan atau pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau peorangan yang bertujuan untuk memperoleh manfaat lebih dari aktivitas yang dilakukan tersebut (Raharjaputra, 2009).
Costs adalah biaya dalam arti pengorbanan  pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau individu yang berhubungan langsung dengan output atau produk yang dihasilkan oleh perusahaan maupun perorangan tersebut. Misalnya, bahan baku dan pembantu, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya umum pabrik (mandor/supervisor pabrik, GM pabrik, BBM, suplai pabrik, listrik pabrik, dan lain-lain). Dalam struktur laporan Rugi/Laba perusahaan biasanya disebut Harga Pokok Produksi.
Biaya terbagi atas dua jenis yaitu
1.      Biaya berdasarkan tujuan pengambilan keputusan
(Supriyono, 2011) Berdasarkan tujuan pengambilan keputusan manajemen, biaya dapat dikelompokkan ke dalam:
1)        Biaya Relevan (relevant cost)
Biaya relevan merupakan biaya yang terjadi pada suatu alternatif tindakan tertentu, tetapi tidak terjadi pada alternatif tindakan lain. Biaya relevan akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu biaya relevan harus dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.
2)        Biaya Tidak Relevan (irrelevant cost)
Biaya tidak relevan merupakan biaya yang tidak berbeda diantara alternatif tindakan yang ada. Irrelevant cost tidak mempengaruhi pengambilan keputusan dan akan tetap sama jumlahnya tanpa memperhatikan alternative yang dipilih. Oleh karena itu biaya tidak relevan tidak harus dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.

2.      Jenis Biaya Berdasarkan Perilaku

Untuk tujuan perencanaan dan pengendalian biaya serta pengambilan keputusan, biaya dapat digolongkan sesuai dengan tingkah lakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan yang dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu :

1)        Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu. Biaya tetap per unit berbanding terbalik secara proporsional dengan perubahan volume kegiatan atau kapasitas. Semakin tinggi tingkat kegiatan, maka semakin rendah biaya tetap per unit. Semakin rendah tingkat kegiatan, maka semakin tinggi biaya tetap per unit.

2)        Biaya Variabel (Variable cost)

Biaya variabel (Variable cost) adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding (proporsional) dengan perubahan volume kegiatan. Semakin tinggi volume kegiatan atau aktivitas, maka secara proporsional semakin tinggi pula total biaya variabel. Semakin rendah volume kegiatan, maka secara proporsional semakin rendah pula total biaya variabel.

3)        Biaya Semivariabel (Semivariabel cost/ Mixed Cost)

Biaya semivariabel adalah biaya yang mempunyai elemen biaya tetap dan biaya variabel di dalamnya. Elemen biaya tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan elemen biaya variabel merupakan bagian dari biaya semivariabel yang dipengaruhi oleh volume kegiatan. Biaya semivariabel jumlah totalnya berubah sesuai dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi tingkat perubahannya tidak proporsional atau sebanding. Semakin tinggi volume kegiatan, semakin tinggi pula jumlah biaya semivariabel, Semakin rendah volume kegiatan semakin rendah pula jumlah biaya semivariabel, tetapi perubahannya tidak proporsional dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya semivariabel adalah biaya listrik, biaya telepon dan biaya air.


2.3    Produksi
adalah suatu kegiatan untuk menciptakan atau menambah nilai guna suatu barang untuk memenuhi kebutuhan. Orang atau badan yang melakukan kegiatan produksi disebut dengan produsen.
Ø  Tujuan Produksi
Tujuan dari memproduksi suatu barang adalah:
1.      Memenuhi kebutuhan masyarakat : Sebagian besar kebutuhan masyarakat dipenuhi oleh kegiatan produksi. Pakaian, televisi, sepeda motor dan barang-barang lainnya merupakan hasil dari kegiatan produksi.
2.      Mencari keuntungan : Mengapa produsen mau melakukan kegiatan produksi? Tentu jawabannya adalah untuk mendapatkan yang sebesar-besarnya. Keuntungan tersebut diperoleh dari selisih penerimaan dan biaya produksi yang dikeluarkan.

Ø  Jenis-jenis produksi di bagi menjadi enam bagian:
1.      Produksi ekstratif
Ekstratif adalah lapangan usaha produksi yang kegiatannya mengumpulkan, menggali, dan mengambil barang-barang yang sudah disediakan oleh alam. Contoh : Menangkap ikan di laut, pertambangan, penggalian, dan sebagainya.
2.      Produksi Agraris
Agaris adalah lapangan usaha produksi yang kegiatannya mengolah alam atau memanfaatkan tanah agar dapat menghasilkan dan ata memperbanayaak barang. Contoh : pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan.
3.      Produksi Industri
Industri adalah lapangan usaha yang kegiatannya mengolah bahan mentah dan bahan penolong untuk dapat menghasilkan barang jadi atau barang setengah jadi. Contoh : industri pakaian, industri makanan, industri kosmetika, industri tekstil, dan industri semen. 
4.      Produksi Perdagangan. 
Perdagangan adalah lapangan usaha yang kegiatannya sebagai perantara pemindahan hak milik barang dari produsen ke konsumen dengan cara memperjualbelikannya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntunan. Contohnya : distributor, dealer, grosir, pedagang (toko/keliling) 
5.      Produksi Pengangkutan dan Transportasi.
Pengangkutan adalah lapangan usaha yang kegiatannya memperpendek jarak antara produsen dan konsumen melalui pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lain. Contoh : Perusahaan pengangkutan barang melalui darat, laut, dan udara.
6.       Produksi Jasa
Jasa adalah lapangan usaha yang kegiatannya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Contoh : dokter, guru, bank, psikolog, dan perbengkelan. 

Ø  Factor-faktor produksi
Dalam ilmu ekonomifaktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa. Pada awalnya, faktor produksi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu tenaga kerjamodalsumber daya alam, dan kewirausahaan. Namun pada perkembangannya, faktor sumber daya alam diperluas cakupannya menjadi seluruh benda tangible, baik langsung dari alam maupun tidak, yang digunakan oleh perusahaan, yang kemudian disebut sebagai faktor fisik (physical resources). Selain itu, beberapa ahli juga menganggap sumber daya informasi sebagai sebuah faktor produksi mengingat semakin pentingnya peran informasi di era globalisasi ini.(Griffin R: 2006) Secara total, saat ini ada lima hal yang dianggap sebagai faktor produksi, yaitu tenaga kerja (labor), modal (capital), sumber daya fisik (physical resources), kewirausahaan (entrepreneurship), dan sumber daya informasi (information resources).
1.      Sumber daya fisik
Faktor produksi fisik ialah semua kekayaan yang terdapat di alam semesta dan barang mentah lainnya yang dapat digunakan dalam proses produksi. Faktor yang termasuk di dalamnya adalah tanahair, dan bahan mentah
2.      Tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat dikelompokan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya.
Berdasarkan kualitasnya, tenaga kerja dapat dibagi menjadi tenaga kerja terdidiktenaga kerja terampil, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatihTenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan tertentu sehingga memiliki keahlian di bidangnya, misalnya dokter, insinyur, akuntan, dan ahli hukum. Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya. Misalnya tukang listrik, montir, tukang las, dan sopir. Sementara itu, tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang tidak membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan pekerjaannya. Misalnya tukang sapu, pemulung, dan lain-lain.
Berdasarkan sifat kerjanya, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani. Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan pikiran, rasa, dan karsa. Misalnya guru, editor, konsultan, dan pengacara. Sementara itu, tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang menggunakan kekuatan fisik dalam kegiatan produksi. Misalnya tukang las, pengayuh becak, dan sopir.
3.      Modal
Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal dapat digolongkan berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan sifatnya. Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi dua: modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri. Misalnya setoran dari pemilik perusahaan. Sementara itu, modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan. Misalnya modal yang berupa pinjaman bank.
Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal abstrak. Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misalnya mesingedungmobil, dan peralatan. Sedangkan yang dimaksud dengan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misalnya hak paten, nama baik, dan hak merek.
Berdasarkan pemilikannya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contohnya adalah rumah pribadi yang disewakan atau bunga tabungan di bank. Sedangkan yang dimaksud dengan modal masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses produksi. Contohnya adalah rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan, atau pelabuhan.
Terakhir, modal dibagi berdasarkan sifatnya: modal tetap dan modal lancar. Modal tetap adalah jenis modal yang dapat digunakan secara berulang-ulang. Misalnya mesin-mesin dan bangunan pabrik. Sementara itu, yang dimaksud dengan modal lancar adalah modal yang habis digunakan dalam satu kali proses produksi. Misalnya, bahan-bahan baku.
4.      Kewirausahaan
Faktor kewirausahaan adalah keahlian atau keterampilan yang digunakan seseorang dalam mengkoordinir faktor-faktor produk
5.      Sumber daya informasi
Sumber daya informasi adalah seluruh data yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya. Data ini bisa berupa ramalan kondisi pasar, pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan, dan data-data ekonomi lainnya.

2.4    Penerimaan
Penerimaan atau Revenue adalah semua penerimaan produsen dari hasil penjualan barang atau jasannya. jenis-jenis penerimaan:
1.      Total penerimaan (Total revenue : TR)
Yaitu total penerimaan dari hasil penjualan.Pada pasar persaingan sempurna, TR merupakan garis lurus dari titik origin, karena harga yang terjadi dipasar bagi mereka merupakan suatu yang datum (tidak bisa dipengaruhi), maka penerimaan mereka naik sebanding (Proporsional) dengan jumlah barang yang dijual. Pada pasar persaingan tidak sempurna, TR merupakan garis melengkung dari titik origin, karena masing perusahaan dapat menentukan sendiri harga barang yang dijualnya, dimana mula-mula TR naik sangat cepat, (akibat pengaruh monopoli) kemudian pada titik tertentu mulai menurun (akibat pengaruh persaingan dan substansi).
2.      Penerimaan rata-rata (Avarage Total revenue: AR)
Yaitu rata-rata penerimaan dari per kesatuan produk yang dijual atau yang dihasilkan, yang diperoleh dengan jalan membagi hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.
3.      Penerimaan Marginal (Marginal Revenue : MR)
Yaitu penambahan penerimaan atas TR sebagai akibat penambahan satu unit output. Dalam pasar persaingan sempurna MR ini adalah konstan dan sama dengan harga (P), dan berimpit dengan kurva AR atau kurva permintaan, bentuk kurvanya horizontal. Dalam pasar persaingan tidak sempurna MR, menurun dari kiri atas kekanan bawah dan nilainya dapat berupa:
1.
Positif
2. Sama dengan nol
3. Negatif.

2.5 Pendapatan
Dalam bisnis, pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan atau jasa kepada pelanggan. Bagi investor, pendapatan kurang penting dibanding keuntungan, yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran. Pertumbuhan pendapatan merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan jasa perusahaan tersebut. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten, dan juga pertumbuhan keuntungan, dianggap penting bagi perusahaan yang dijual ke publik melalui saham untuk menarik investor.
Pengertian pendapatan menurut para ahli:
Menurut Theodurus M.Tuanakotta dalam buku “Teori Akuntansi” (2000;152) Pendapatan secara umum didefinisikan sebagai hasil dari suatu perusahaan. Pendapatan merupakan darah kehidupan dari perusahaan. Begitu pentingnya sangat sulit untuk mendefinisikan sebuah pendapatan sebagai unsur akuntansu pada diri senndiri. Pada dasarnya pendapatan merupakan kenaikan laba, seperti laba pendapatan ialah sebuah proses arus penciptaan barang dan/atau jasa oleh perusahaan selama kurun waktu tertentu. Pada umumnya, pendapatan dinyatakan dalam satuan uang(moneter).
Menurut Theodorus. M. Tuanakotta dalam buku “Teori Akuntansi” (2000;153) Pendapatan merupakan inflow of assets ke dalam perusahaan untuk akibat penjualan barang dan/atau jasa.
Menurut Kusnadi dalam buku “Akuntansi Keuangan Menengah (Intermediate): Prinsip, Prosedur, dan Metode“ (2000;9) Pendapatan merupakan penambahan aktiva yang dapat mengakibatkan bertambahnya modal namun bukan dikarenakan penambahan modal dari pemilik atau bukan hutang namun melainkan melalui penjulan barang dan/atau jasa terhadap pihak lain, sebab pendapatan tersebut bisa dikatakan sebagai kontra perstasi yang didapatkan atas jasa-jasa yang sudah diberikan kepada pihak lain.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam buku “Standar Akuntansi Keuangan” (2002;23.2) Pendapatan merupakan arus masuk bruto dari suatu manfaat ekonomi yang muncul dari aktivitas normal perusahaan dalam waktu satu periode jika arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal.
Jenis-jenis pendapatan menurut Suparmoko dalam Artaman, (2015). Pendapatan di bagi menjadi tiga bagian:
1.      Gaji dan Upah. Imbalan yang diperoleh setelah orang tersebut melakukan pekerjaan untuk orang lain yang diberikan dalam waktu satu hari, satu minggu maupun satu bulan.
2.      Pendapatan dari usaha sendiri. Merupakan nilai total dari hasil produksi yang dikurangi dengan biaya – biaya yang dibayar dan usaha ini merupakan usaha milik sendiri atau keluarga dan tenaga kerja berasal dari anggota keluarga sendiri, nilai sewa kapital milik sendiri dan semua biaya ini biasanya tidak diperhitungkan.
3.      Pendapatan dari usaha lain. Pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan tenaga kerja dan ini biasanya merupakan pendapatan sampingan antara lain yaitu pendapatan dari hasil menyewakan aset yang dimiliki seperti rumah, ternak dan barang lain, bunga dari uang, sumbangan dari pihak lain dan pendapatan dari pensiun

2.5  RC RATIO
R/C Ratio (Revenue Cost Ratio) merupakan efisiensi usaha, yaitu ukuran perbandingan antara Penerimaan usaha (Revenue = R) dengan Total Biaya (Cost = TC).  Dengan nilai R/C, dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.  Usaha efisiensi (menguntungkan) jika nilai  R/C > 1 
Rumus :
R/C ratio    =  Total Penerimaan (R)  :  Total Biaya Produksi (TC)

2.6  BC RATIO
B/C Ratio (Benefit Cost Ratio) adalah ukuran perbandingan antara pendapatan (Benefit = B) dengan Total Biaya produksi (Cost = C).  Dalam batasan besaran nilai B/C dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.
Rumus:
B/C ratio    =  Jumlah Pendapatan (B)  :  Total Biaya Produksi (TC)
Jika B/C ratio  >  1  , usaha layak dilaksanakan
Jika B/C ratio  <  1  , usaha tidak layak atau merugi

2.7  BREAK EVEN POINT (BEP)
Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan atau profit.

Komponen Penghitungan Dasar Break Even Point

Break Even Point memerlukan komponen penghitungan dasar seperti berikut ini:
1.      Fixed Cost. Komponen ini merupakan biaya yang tetap atau konstan jika adanya tindakan produksi atau meskipun perusahaan tidak berproduksi. Contoh biaya ini yaitu biaya tenaga kerja, biaya penyusutan mesin, dll.
2.      Variabel Cost. Komponen ini merupakan biaya per unit yang sifatnya dinamis tergantung dari tindakan volume produksinya. Jika produksi yang direncanakan meningkat, berarti variabel cost pasti akan meningkat. Contoh biaya ini yaitu biaya bahan baku, biaya listrik, dll.
3.      Selling Price. Komponen ini adalah harga jual per unit barang atau jasa yang telah diproduksi.

Rumus Break Even Point

Rumus yang digunakan untuk analisis Break Even Point ini terdiri dari dua macam sebagai berikut:
1.      Dasar Unit
Berapa unit jumlah barang/jasa yang harus dihasilkan untuk mendapat titik impas: BEP = FC /(P-VC)
2.      Dasar Penjualan
Berapa rupiah nilai penjualan yang harus diterima untuk mendapat titik impas: FC/ (1 – (VC/P))* Penghitungan (1 – (VC/P)) biasa juga disebut dengan istilah Margin Kontribusi Per Unit

BAB III METODOLOGI

3.1  Waktu dan Tempat
Studi kasus ini dilakukan pada tanggal 9 Juni, 2017. Pukul 17.00 WIT, yang bertempat di Desa Gulakusuma Kec. Sahu Timur Kab. HALMAHERA BARAT.
Dengan luas lahan 10x50m, di dalam lahan terdapat 10 bedengan dengan ukuran 1x50m. Nama Responden atau Petani Bapak Ismai.       

3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk memperoleh data adalah sebagai berikut:
1.    Pena.
2.    Buku.
3.    Kamera.





BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Faktor Produksi dan Produksi Tomat
A.    Pengunaan faktor produksi
Faktor produksi adalah sesuatu yang ditambahkan dalam proses produksi atau segala sesuatu yang dipergunakan untuk produksi (Rosyidi, 2001). Adapun faktor-faktor produksi yang diperhitungkan dalam penelitian ini yaitu: sarana produksi (benih, pupuk, pestisida) dan tenaga kerja.
Biaya produksi adalah nilai dari semua faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan usahatani tomat yang terdiri dari biaya variabel yaitu biaya sarana produksi untuk benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja, sedangkan biaya tetap adalah biaya penyusutan.
B.     Biaya Sarana Produksi ( Biaya Variabel )
Biaya sarana produksi terdiri dari biaya benih, pupuk, dan pestisida.
a.       Benih
Benih yang digunakan oleh Pak Ismail benih tomat yang berjumblah 2 bungkus dengan harga satu bungkus Rp. 200.000, jadi total harga benih senilai Rp. 400.000
b.      Pupuk
Pupuk yang digunakan Pak Ismail yaitu:
·         Ponska 1 Rp. 150.000
·         TSP 1 Rp. 150.000
·         Mutiara 10 Kg Dengan harga Rp. 35.000/Kg, jadi nilai pupk ini Rp. 350.000
Dengan demikian total pupuk yang digunakan berjumblah Rp650.000
c.       Tenaga kerja
Tenaga Kerja yang digunakan pak Ismail adalah untuk pengolahan lahan berjumblah satu orang saja dengan harga sewa per hari Rp. 80.000, sedangkan tenaga kerja tersebut di sewa dua hari sehingga total sewa tenaga kerja Rp. 160.000.
d.      Penyusutan alat
Alat-alat pertanian yang digunakan pak ismail adalah cangkul, handsprayer, parang, dan mulsa.
Ø  Cangkul 2 Rp. 200.000
Ø  Handsprayer 1 Rp. 400.000
Ø  Parang 1 Rp. 150.000
Ø  Mulsa 1 glungan Rp. 800.000
Total biaya penyusutan berjumblah Rp. 1.550.000
e.       Biaya lain-lain
Yaitu, Biaya tali 10 gulngan kecil dengan harga Rp. 1.000/1 gulung. Total Rp. 10.000

4.2 Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan                             
Berdasarkan hasil pengamatan tomat pak ismail yang di panen olehnya yang berjumblah 30 peti, sedangkan para pembeli yang mengambil hasil produksi Pak Ismail hitungannya Rp. 300.000/1 peti
Penerimaan kotor yang diperoleh Pak Ismail adalah Rp. 9.000.000, untuk mencari pendapatan bersih atau untung, tidak untung dapat dikurangi antara modal dan untung yang di milik Pak smail.
Total biaya produksi berjumblah Rp. 2.470.000 dikurangi dengan hasil atau pendapatan kotor yang berjumblah Rp. 9.000.000. maka hasil pendapatan bersih yang di dapat oleh Pak Ismail bernilai Rp. 8.240.000.
RC ratio yang didapat 3,64 yang menunjukkan bahwa RC ratio bernilai lebih besar daripada 1 maka dapat dikatakan bahwa usahatani yang dilakukan di Desa tersebut adalah menguntungkan. Dan BEP yang didapat adalah -0,539007092.




Tabel Rata-Rata Pendapatan dan Penerimaan Petani Tomat
No
Uraian
Rata-Rata Produksi
I
Rata-rata Produksi per bulan (peti)
                               30
II
Harga Jual
 Rp             300.000,00
III
Penerimaan tomat
 Rp          9.000.000,00
IV
Rata-Rata Biaya Produksi
 Rp          2.470.000,00
a. Biaya Tetap:
 Rp           760.000,00
1) Cangkul
 Rp                  200.000
2) Handspayer
 Rp                  400.000
3) Parang
 Rp                  150.000
4) Tali
 Rp                    10.000
b. Biaya Variabel :
 Rp             1.710.000
-  upah tenaga kerja
 Rp                  160.000
-  plastik mulsa
 Rp                  800.000
-  pupuk
 Rp                  350.000
-  Benih
 Rp                  400.000
Pendapatan Petani Tomat
 Rp             8.240.000



R/C Rasio
3,643724696
BEP
-0,539007092




BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus pendapatan usahatani yang dilakukan di Desa Gulakusuma Kec. Sahu Timur Kab. HALBAR. Dapat simpulkan bahwa usahatani yang dilakukan Bapak Ismail, menunjukan menguntungkan, karena modal yang dimiliki Pak Ismail Rp2.570.000 dan hasil yang didapat dari Pak Ismail Rp. 8.240.000,  maka RC ratio yang didapat 3,64, sehingga usahatani Pak Ismail ini dapat dikatakan mngguntungkan.

5.2.Saran












DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga, A. (1982). Ilmu Usahatani. Bandung: Alumni
Anonymous. 2011. http://elwamendri.files.wordpress.com/2011/11/ciri-pertanian-indonesia.pdf.                Diakses Pada 15 September 2012
Hansen, R, Don., Mowen, M, Maryanne. 2006. Cost Management Accounting and Control. Fifth             Edition. Thomson. Oklahoma. 
Hernanto, F. 1996. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Raharjaputra, H.S. 2009. Manajemen Keuangan dan Akuntansi. Jakarta. Salemba Empat.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta
Soekartawi. 2000. Pembangunan Pertanian. Rajawali press: Jakarta
Soekartawi. 2002. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas, Cetakan Ke 3. Rajawali Press: Jakarta
Soekartawi, A. Soeharjo, John L. Dillon, J. Brian Hardaker. 1996. Ilmu Usaha Tani Dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia. Jakarta.
Supriyono. 2011. Akuntansi Biaya, Perencanaan dan pengendalian biaya,serta pengambilan keputusan. Yogyakarta. BPFE.
Tjakrawiralaksana, A.  (1983).  Usahatani.  Bogor: Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor





.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar