MAKALAH MENEJEMEN USAHA TANI
STUDI
KASUS ANALISIS PENDAPATAN USAHA
TANI BUDIDAYA TANAMAN TOMAT (Solanum Iycopersicum )
OLEH :
OKTOVIANUS BASSAY 12355211150036
ORVI MADUNDANG 12355211150016
WULANDARI 12355211150054
MUSTAKIM 12355211150115
MARDIANI MUYU 12355211150114
AWEN OLICI KOTU 12355211160101
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
SEKOLAH TINGGI PERTANIAN KEWIRAUSAHAAN (STPK) BANAU
HALMAHERA BARAT
2017
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya kami bisa menyelasaikan laporan praktikum studi kasus tentang tanaman Tomat dan di kenal dengan nama Solanum Iycopersicum
yang berada di desa Gulakusuma lebih tepatnya di Transmigrasi Goal. Kami berharap dalam kegiatan studi kasus ini semoga dapat bermanfaat bagi
rekan-rekan semua, baik itu para mahasiswa maupun masyarakat luas.
Walaupun laporan ini sudah dibuat
sedemikian rupa, kami menyadari bahwa penulisan laporan
praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini kedepan.
Semoga
dengan laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan menambah pemahaman serta pengalaman dalam
melakukan kegiatan praktikum kedepan.
Jailolo, Juni 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................
1.1 latar belakang................................................................................
1.2 tujuan.............................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................
2.1 Usaha Tani.....................................................................................
2.2 Biaya...............................................................................................
2.3 Produksi.........................................................................................
2.4 Penerimaan....................................................................................
2.5 Pendapatan....................................................................................
2.6 RC Ratio........................................................................................
2.7 BC Ratio.........................................................................................
2.7 BEP Ratio......................................................................................
BAB III METODOLOGI..........................................................................
3.1 Waktu dan Tempat.......................................................................
3.2 Alat dan Bahan.............................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................
4.1 Faktor Produksi dan Produksi Tomat........................................
4.2 Produksi, Penerimaan, dan Pendapatan....................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN....................................................
5.1 Simpulan........................................................................................
5.2 Saran..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah Negara Agraris yang sebagaian besar
penduduknya terdiri dari dari petani sehingga sektor pertanian memegang peranan
penting. Sektor pertanian sebagai sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduk
terutama bagi mereka yang memiliki mata pencaharian utama sebagai petani.
Selain itu sektor pertanian, salah satu hal penting yang harus
diperhatikan sebagai penyedia pangan bagi masyarakat. Peningkatan produksi yang
harus seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk dapat dicapai melalui
peningkatan pengelolaan usaha tani secara intensif. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang cara pengusahaan suatu usahatani mutlak dibutuhkan agar
dapat meningkatkan produktifitas serta dapat meningkatkan pendapatan sehingga
kesejahteraan petani dapat meningkat.
Pengorganisir usahatani adalah petani
sendiri dibantu oleh keluarganya dan tenaga luar. Penggunaan tenaga luar
dikhususkan untuk kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang lebih dari
potensi tenaga kerja yang dimiliki petani sedangkan yang diorganisir sendiri
adalah faktor-faktor produksi yang dikuasai atau yang dapat dikuasai. Selain
itu usahatani ini hanya dilaksanakan pada areal sempit, hal ini dikarenakan
terbatasnya faktor modal dan kebanyakan petani sudah merasa puas apabila
hasilnya sudah dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehingga didalam Ilmu Usaha
tani ini, analisis biaya dirasa cukup penting, karena tiap petani dapat
menguasai pengaturan biaya produksi dalam usahataninya tetapi tidak mampu
mengatur harga komoditi yang dijualnya atau memberi nilai kepada komoditi
tersebut. Harga-harga ditentukan oleh berbagai faktor
yang ada didalam usahatani termasuk pula faktor-faktor diluar usaha tani.
Secara
garis besar, besarnya pendapatan usaha tani diperhitungkan dari pengurangan
besarnya penerimaan dengan besarnya biaya usaha tani tersebut. Penerimaan suatu
usahatani akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti luasnya usaha tani, jenis
dan harga komoditi usaha tani yang diusahakan, sedang besarnya biaya suatu
usaha tani akan dipengaruhi oleh topografi, struktur tanah, jenis dan varietas
komoditi yang diusahakan, teknis budidaya serta tingkat teknologi yang
digunakan.
Buah
tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek pemasaran yang
cerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buah tomat yang dapat dimanfaatkan
oleh masyarakat diantaranya adalah sebagai sumber vitamin. Buah tomat sangat
baik untuk mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit, seperti sariawan
karena mengandung vitamin C. Selain sebagai buah segar yang langsung dapat
konsumsi, buah tomat juga dapat digunakan sebagai bahan penyedap berbagai macam
masakan seperti sop, gado-gado, sambal, dan juga dapat dijadikan bahan industri
untuk dikonsumsi dalam bentuk olahan, misalnya untuk minuman sari buah tomat,
es juice tomat, dan konsentrat. Berbagai macam kegunaan tersebut dapat
memberikan keuntungan, baik bagi konsumen, produsen, maupun masyarakat pada
umumnya.
Potensi pasar buah tomat juga dapat dilihat
dari segi harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga
membuka peluang yang lebih besar terhadap serapan pasar (Cahyono,1998).
Menurut Soeharjo dan Patong (1994), pada
beberapa daerah di Indonesia, petani belum mampu mengambil keputusan ekonomis yang
menguntungkan. yang dimaksud adalah kemampuan petani dalam menentukan,
mengorganisasikan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi
seefektif mungkin agar produksi pertaniannya memberikan fungsi yang lebih baik
dan lebih menguntungkan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari laporan
praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui besarnya biaya produksi.
2.
Mengetahui pendapatan usahatani
tomat di Desa Gulakusuma Kec.Sahu
Timur Kab.HALBAR.
3.
Menambah pengetahuan
mahasiswa tentang cara membudidaya tomat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Tani
Usaha Tani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang
terdapat di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian, seperti sinar
matahari, tubuh tanah, dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan
terhadap tanah tersebut, dan bangunan-bangunan yang telah didirikan di atasnya
atau Usaha tani
adalah suatu organisasi produksi dimana petani sebagai pelaksana mengorganisasi
alam, tenaga kerja dan modal ditunjukkan pada produksi di sektor pertanian,
baik berdasarkan pada pencarian laba atau tidak. Usahatani dapat berupa
usaha bercocok tanam atau memelihara ternak. Usahatani yang produktif adalah
usahatani yang produktivitasnya tinggi. Produktivitas merupakan penggabungan
antara efisiensi usaha (fisik) dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik ini mengukur
banyaknya hasil produksi yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input.
Biaya
usahatani terbagi atas tiga kategori, yaitu:
Biaya alat-alat luar yaitu semua pengorbanan
yang diberikan dalam usaha tani untuk memperoleh
pendapatan kotor, kecuali bunga seluruh aktiva yang dipergunakan dan biaya
untuk kegiatan pengusaha (keuntungan pengusaha) dan upah tenaga keluarga
sendiri.
2.
Biaya mengusahakan yaitu biaya alat-alat luar
ditambah dengan upah tenaga keluarga sendiri, yang diperhitungkan berdasarkan
upah yang dibayarkan kepada tenaga luar.
3.
Biaya menghasilkan yaitu biaya mengusahakan
ditambah dengan bunga dari aktiva yang dipergunakan dalam usahatani.
Dalam ilmu ekonomi
dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima
pada waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya (pengorbanan, cost) yang
harus dikeluarkannya. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut
produksi dan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi, sedangkan total
penerimaan diperoleh dari produksi fisik dikalikan dengan harga produksi.
Tujuan usaha tani adalah diperolehnya produksi setinggi mungkin dengan
biaya serendah-rendahnya. Usahatani yang baik adalah usahatani yang
produktif dan efisien. Usahatani yang produktif adalah usahatani yang
memiliki produktifitas tinggi, yang ditentukan oleh penggunaan faktor produksi
pertanian atau input seperti bibit, tenaga kerja, modal dan faktor-faktor
produksi lainnya. Usahatani yang efisien adalah usahatani yang secara ekonomis
menguntungkan, biaya dan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan untuk produksi
lebih kecil dari harga jual atau hasil penjualan yang diterima dari hasil
produksi (Mubyarto, 1995).
Menurut Hernanto (1996), petani adalah
manajer dalam kegiatan usahataninya. Usahatani mempunyai empat unsur pokok
yaitu tanah, tenaga kerja, modal, dan manajemen. Pengoptimalan faktor tersebut
penting untuk mendapatkan usahatani yang efisien dan menguntungkan. Sistem
usahatani mulai bergeser dari subsisten yang hanya untuk pemenuhan kebutuhan
keluarga menjadi komersial untuk memperoleh keuntungan yang tinggi demi
mencapai pendapatan yang layak.
2.2
Biaya
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu
dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang
menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan
terjadi atau Biaya merupakan pengorbanan
atau pengeluaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau peorangan yang
bertujuan untuk memperoleh manfaat lebih dari aktivitas yang dilakukan tersebut
(Raharjaputra, 2009).
Costs adalah biaya dalam arti pengorbanan pengeluaran
yang dilakukan oleh suatu perusahaan atau individu yang berhubungan langsung
dengan output atau produk
yang dihasilkan oleh perusahaan maupun perorangan
tersebut. Misalnya, bahan
baku dan pembantu, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya umum pabrik
(mandor/supervisor pabrik, GM pabrik, BBM, suplai pabrik, listrik pabrik, dan
lain-lain). Dalam struktur laporan Rugi/Laba perusahaan biasanya disebut Harga
Pokok Produksi.
Biaya terbagi atas dua jenis yaitu
1.
Biaya berdasarkan tujuan pengambilan keputusan
(Supriyono, 2011) Berdasarkan tujuan pengambilan keputusan
manajemen, biaya dapat dikelompokkan ke dalam:
1)
Biaya
Relevan (relevant cost)
Biaya relevan merupakan biaya yang terjadi pada suatu
alternatif tindakan tertentu, tetapi tidak terjadi pada alternatif tindakan
lain. Biaya relevan akan mempengaruhi pengambilan keputusan, oleh karena itu
biaya relevan harus dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.
2)
Biaya
Tidak Relevan (irrelevant cost)
Biaya tidak relevan merupakan biaya yang tidak berbeda
diantara alternatif tindakan yang ada. Irrelevant cost tidak mempengaruhi
pengambilan keputusan dan akan tetap sama jumlahnya tanpa memperhatikan
alternative yang dipilih. Oleh karena itu biaya tidak relevan tidak harus dipertimbangkan
dalam pembuatan keputusan.
2.
Jenis Biaya Berdasarkan Perilaku
Untuk
tujuan perencanaan dan pengendalian biaya serta pengambilan keputusan, biaya
dapat digolongkan sesuai dengan tingkah lakunya dalam hubungannya dengan
perubahan volume kegiatan yang dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu :
1)
Biaya Tetap
(Fixed Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang
jumlah totalnya tetap konstan, tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan
atau aktivitas sampai dengan tingkatan tertentu. Biaya tetap per unit
berbanding terbalik secara proporsional dengan perubahan volume kegiatan atau
kapasitas. Semakin tinggi tingkat kegiatan, maka semakin rendah biaya tetap per
unit. Semakin rendah tingkat kegiatan, maka semakin tinggi biaya tetap per
unit.
2)
Biaya
Variabel (Variable cost)
Biaya variabel (Variable cost)
adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding (proporsional)
dengan perubahan volume kegiatan. Semakin tinggi volume kegiatan atau
aktivitas, maka secara proporsional semakin tinggi pula total biaya variabel.
Semakin rendah volume kegiatan, maka secara proporsional semakin rendah pula
total biaya variabel.
3)
Biaya
Semivariabel (Semivariabel cost/ Mixed Cost)
Biaya semivariabel adalah biaya
yang mempunyai elemen biaya tetap dan biaya variabel di dalamnya. Elemen biaya
tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan elemen
biaya variabel merupakan bagian dari biaya semivariabel yang dipengaruhi oleh
volume kegiatan. Biaya semivariabel jumlah totalnya berubah sesuai dengan
perubahan volume kegiatan, akan tetapi tingkat perubahannya tidak proporsional
atau sebanding. Semakin tinggi volume kegiatan, semakin tinggi pula jumlah
biaya semivariabel, Semakin rendah volume kegiatan semakin rendah pula jumlah
biaya semivariabel, tetapi perubahannya tidak proporsional dengan perubahan
volume kegiatan. Contoh biaya semivariabel adalah biaya listrik, biaya telepon
dan biaya air.
2.3 Produksi
adalah suatu kegiatan untuk menciptakan atau
menambah nilai guna suatu barang untuk memenuhi kebutuhan. Orang atau badan yang
melakukan kegiatan produksi disebut dengan produsen.
Ø Tujuan
Produksi
Tujuan
dari memproduksi suatu barang adalah:
1. Memenuhi kebutuhan masyarakat : Sebagian besar
kebutuhan masyarakat dipenuhi oleh kegiatan produksi. Pakaian, televisi, sepeda
motor dan barang-barang lainnya merupakan hasil dari kegiatan produksi.
2. Mencari keuntungan : Mengapa produsen
mau melakukan kegiatan produksi? Tentu jawabannya adalah untuk mendapatkan yang
sebesar-besarnya. Keuntungan tersebut diperoleh dari selisih penerimaan dan
biaya produksi yang dikeluarkan.
Ø
Jenis-jenis produksi di bagi menjadi enam bagian:
1.
Produksi ekstratif
Ekstratif adalah lapangan usaha produksi yang
kegiatannya mengumpulkan, menggali, dan mengambil barang-barang yang sudah
disediakan oleh alam. Contoh : Menangkap ikan di laut,
pertambangan, penggalian, dan sebagainya.
2.
Produksi Agraris
Agaris adalah lapangan usaha produksi yang
kegiatannya mengolah alam atau memanfaatkan tanah agar dapat menghasilkan dan
ata memperbanayaak barang. Contoh : pertanian, peternakan, perkebunan, dan
perikanan.
3.
Produksi Industri
Industri adalah lapangan usaha yang
kegiatannya mengolah bahan mentah dan bahan penolong untuk dapat menghasilkan
barang jadi atau barang setengah jadi. Contoh : industri pakaian, industri
makanan, industri kosmetika, industri tekstil,
dan industri semen.
4.
Produksi
Perdagangan.
Perdagangan adalah lapangan usaha yang
kegiatannya sebagai perantara pemindahan hak milik barang dari produsen ke
konsumen dengan cara memperjualbelikannya dengan tujuan untuk mendapatkan
keuntunan. Contohnya : distributor, dealer, grosir, pedagang
(toko/keliling)
5.
Produksi
Pengangkutan dan Transportasi.
Pengangkutan adalah lapangan usaha yang
kegiatannya memperpendek jarak antara produsen dan konsumen melalui pemindahan
barang dari satu tempat ke tempat lain. Contoh : Perusahaan pengangkutan barang
melalui darat, laut, dan udara.
6.
Produksi Jasa
Jasa adalah lapangan usaha
yang kegiatannya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Contoh : dokter, guru,
bank, psikolog, dan perbengkelan.
Ø
Factor-faktor produksi
Dalam ilmu ekonomi, faktor produksi adalah sumber
daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa. Pada awalnya,
faktor produksi dibagi menjadi empat kelompok, yaitu tenaga kerja, modal, sumber daya alam, dan kewirausahaan. Namun pada perkembangannya,
faktor sumber daya alam diperluas cakupannya menjadi seluruh benda tangible,
baik langsung dari alam maupun tidak, yang digunakan oleh perusahaan, yang
kemudian disebut sebagai faktor fisik (physical resources). Selain itu,
beberapa ahli juga menganggap sumber daya informasi sebagai sebuah faktor
produksi mengingat semakin pentingnya peran informasi di era globalisasi ini.(Griffin R: 2006)
Secara total, saat ini ada lima hal yang dianggap sebagai faktor produksi,
yaitu tenaga kerja (labor), modal (capital), sumber daya fisik (physical
resources), kewirausahaan (entrepreneurship), dan sumber daya
informasi (information resources).
1.
Sumber daya fisik
Faktor
produksi fisik ialah semua kekayaan yang terdapat di alam semesta dan barang mentah
lainnya yang dapat digunakan dalam proses produksi. Faktor yang termasuk di
dalamnya adalah tanah, air, dan bahan mentah
2.
Tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan
faktor produksi insani yang secara langsung maupun tidak
langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja juga
dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi tenaga kerja,
terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan
yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat
dikelompokan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian)
dan berdasarkan sifat kerjanya.
Berdasarkan
kualitasnya, tenaga kerja dapat dibagi menjadi tenaga kerja terdidik, tenaga
kerja terampil, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Tenaga
kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan tertentu
sehingga memiliki keahlian di bidangnya, misalnya dokter, insinyur, akuntan, dan ahli hukum. Tenaga kerja
terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau latihan
bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya. Misalnya
tukang listrik, montir, tukang las, dan sopir. Sementara itu, tenaga
kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang tidak
membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan pekerjaannya. Misalnya
tukang sapu, pemulung, dan lain-lain.
Berdasarkan sifat kerjanya,
tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani.
Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan pikiran, rasa, dan
karsa. Misalnya guru, editor, konsultan, dan
pengacara. Sementara itu, tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang
menggunakan kekuatan fisik dalam kegiatan produksi. Misalnya tukang las,
pengayuh becak, dan sopir.
3.
Modal
Yang dimaksud dengan modal
adalah barang-barang atau peralatan yang
dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal dapat digolongkan
berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan
sifatnya. Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi dua: modal sendiri
dan modal asing. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri. Misalnya
setoran dari pemilik perusahaan. Sementara itu, modal asing adalah modal yang
bersumber dari luar perusahaan. Misalnya modal yang berupa pinjaman bank.
Berdasarkan
bentuknya, modal dibagi menjadi modal
konkret dan modal abstrak. Modal konkret adalah
modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misalnya mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan yang dimaksud dengan modal
abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai
bagi perusahaan. Misalnya hak paten, nama baik, dan hak merek.
Berdasarkan
pemilikannya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal
individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi
sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contohnya adalah rumah pribadi yang
disewakan atau bunga tabungan di bank. Sedangkan yang dimaksud dengan modal
masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk
kepentingan umum dalam proses produksi. Contohnya adalah rumah sakit umum milik pemerintah,
jalan, jembatan, atau pelabuhan.
Terakhir,
modal dibagi berdasarkan sifatnya: modal tetap dan modal lancar. Modal tetap
adalah jenis modal yang dapat digunakan secara berulang-ulang. Misalnya
mesin-mesin dan bangunan pabrik. Sementara itu, yang dimaksud dengan modal
lancar adalah modal yang habis digunakan dalam satu kali proses produksi.
Misalnya, bahan-bahan baku.
4.
Kewirausahaan
Faktor kewirausahaan adalah
keahlian atau keterampilan yang digunakan seseorang dalam mengkoordinir
faktor-faktor produk
5.
Sumber daya informasi
Sumber daya informasi
adalah seluruh data yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan bisnisnya.
Data ini bisa berupa ramalan kondisi pasar, pengetahuan yang dimiliki oleh
karyawan, dan data-data ekonomi lainnya.
2.4 Penerimaan
Penerimaan atau Revenue adalah semua
penerimaan produsen dari hasil penjualan barang atau jasannya. jenis-jenis
penerimaan:
1.
Total penerimaan
(Total revenue : TR)
Yaitu total penerimaan dari hasil
penjualan.Pada pasar persaingan sempurna, TR merupakan garis lurus dari titik
origin, karena harga yang terjadi dipasar bagi mereka merupakan suatu yang
datum (tidak bisa dipengaruhi), maka penerimaan mereka naik sebanding
(Proporsional) dengan jumlah barang yang dijual. Pada pasar persaingan tidak
sempurna, TR merupakan garis melengkung dari titik origin, karena masing
perusahaan dapat menentukan sendiri harga barang yang dijualnya, dimana
mula-mula TR naik sangat cepat, (akibat pengaruh monopoli) kemudian pada titik
tertentu mulai menurun (akibat pengaruh persaingan dan substansi).
2.
Penerimaan
rata-rata (Avarage Total revenue: AR)
Yaitu rata-rata penerimaan dari per kesatuan
produk yang dijual atau yang dihasilkan, yang diperoleh dengan jalan membagi
hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.
3. Penerimaan
Marginal (Marginal Revenue : MR)
Yaitu penambahan penerimaan atas
TR sebagai akibat penambahan satu unit output. Dalam pasar persaingan
sempurna MR ini adalah konstan dan sama dengan harga (P), dan berimpit dengan
kurva AR atau kurva permintaan, bentuk kurvanya horizontal. Dalam pasar persaingan
tidak sempurna MR, menurun dari kiri atas kekanan bawah dan nilainya dapat
berupa:
1. Positif
1. Positif
2.
Sama dengan nol
3.
Negatif.
2.5
Pendapatan
Dalam bisnis, pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan
dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan atau jasa kepada pelanggan.
Bagi investor, pendapatan kurang penting dibanding keuntungan, yang merupakan jumlah uang
yang diterima setelah dikurangi pengeluaran. Pertumbuhan pendapatan
merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan jasa
perusahaan tersebut. Pertumbuhan pendapatan yang
konsisten, dan juga pertumbuhan keuntungan, dianggap penting bagi perusahaan
yang dijual ke publik melalui saham untuk menarik
investor.
Pengertian
pendapatan menurut para ahli:
Menurut
Theodurus M.Tuanakotta dalam buku “Teori Akuntansi” (2000;152) Pendapatan secara umum didefinisikan sebagai
hasil dari suatu perusahaan. Pendapatan merupakan darah kehidupan dari
perusahaan. Begitu pentingnya sangat sulit untuk mendefinisikan sebuah
pendapatan sebagai unsur akuntansu pada diri senndiri. Pada dasarnya pendapatan
merupakan kenaikan laba, seperti laba pendapatan ialah sebuah proses arus
penciptaan barang dan/atau jasa oleh perusahaan selama kurun waktu tertentu.
Pada umumnya, pendapatan dinyatakan dalam satuan uang(moneter).
Menurut Theodorus. M. Tuanakotta dalam
buku “Teori Akuntansi” (2000;153) Pendapatan merupakan inflow of assets ke
dalam perusahaan untuk akibat penjualan barang dan/atau jasa.
Menurut Kusnadi dalam buku “Akuntansi
Keuangan Menengah (Intermediate): Prinsip, Prosedur, dan Metode“ (2000;9) Pendapatan merupakan penambahan aktiva yang dapat
mengakibatkan bertambahnya modal namun bukan dikarenakan penambahan modal dari
pemilik atau bukan hutang namun melainkan melalui penjulan barang dan/atau jasa
terhadap pihak lain, sebab pendapatan tersebut bisa dikatakan sebagai kontra
perstasi yang didapatkan atas jasa-jasa yang sudah diberikan kepada pihak lain.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia
dalam buku “Standar Akuntansi Keuangan” (2002;23.2) Pendapatan merupakan arus masuk bruto dari
suatu manfaat ekonomi yang muncul dari aktivitas normal perusahaan dalam waktu
satu periode jika arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak
berasal dari kontribusi penanaman modal.
Jenis-jenis
pendapatan menurut Suparmoko dalam Artaman, (2015).
Pendapatan di bagi menjadi tiga bagian:
1.
Gaji dan Upah. Imbalan yang diperoleh setelah
orang tersebut melakukan pekerjaan untuk orang lain yang diberikan dalam waktu
satu hari, satu minggu maupun satu bulan.
2.
Pendapatan dari usaha sendiri. Merupakan
nilai total dari hasil produksi yang dikurangi dengan biaya – biaya yang
dibayar dan usaha ini merupakan usaha milik sendiri atau keluarga dan tenaga
kerja berasal dari anggota keluarga sendiri, nilai sewa kapital milik sendiri
dan semua biaya ini biasanya tidak diperhitungkan.
3. Pendapatan dari usaha lain.
Pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan tenaga kerja dan ini biasanya
merupakan pendapatan sampingan antara lain yaitu pendapatan dari hasil
menyewakan aset yang dimiliki seperti rumah, ternak dan barang lain, bunga dari
uang, sumbangan dari pihak lain dan pendapatan dari pensiun
2.5 RC RATIO
R/C
Ratio (Revenue
Cost Ratio) merupakan efisiensi usaha, yaitu ukuran perbandingan antara Penerimaan usaha (Revenue =
R) dengan Total Biaya (Cost = TC). Dengan nilai R/C,
dapat diketahui apakah suatu usaha menguntungkan atau tidak
menguntungkan. Usaha efisiensi (menguntungkan) jika nilai R/C >
1
Rumus
:
R/C ratio
=
Total Penerimaan (R) : Total Biaya Produksi (TC)
2.6 BC RATIO
B/C Ratio (Benefit Cost
Ratio) adalah ukuran perbandingan
antara pendapatan (Benefit = B) dengan Total Biaya produksi (Cost =
C). Dalam batasan besaran nilai B/C dapat diketahui apakah suatu
usaha menguntungkan atau tidak menguntungkan.
Rumus:
B/C ratio = Jumlah
Pendapatan (B) : Total Biaya Produksi (TC)
Jika B/C ratio >
1 , usaha layak dilaksanakan
Jika B/C ratio <
1 , usaha tidak layak atau
merugi
2.7 BREAK EVEN POINT (BEP)
Break Even point
atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau
jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi
biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan atau profit.
Komponen
Penghitungan Dasar Break Even Point
Break
Even Point memerlukan komponen penghitungan dasar seperti berikut ini:
1. Fixed Cost. Komponen ini merupakan biaya yang tetap atau konstan
jika adanya tindakan produksi atau meskipun perusahaan tidak berproduksi.
Contoh biaya ini yaitu biaya tenaga kerja, biaya penyusutan mesin, dll.
2. Variabel Cost. Komponen ini merupakan biaya per unit yang sifatnya
dinamis tergantung dari tindakan volume produksinya. Jika produksi yang
direncanakan meningkat, berarti variabel cost pasti akan meningkat. Contoh
biaya ini yaitu biaya bahan baku, biaya listrik, dll.
3. Selling Price. Komponen ini adalah harga jual per unit barang atau
jasa yang telah diproduksi.
Rumus
Break Even Point
Rumus
yang digunakan untuk analisis Break Even Point ini terdiri dari dua macam
sebagai berikut:
1. Dasar Unit
Berapa
unit jumlah barang/jasa yang harus dihasilkan untuk mendapat titik impas: BEP =
FC /(P-VC)
2. Dasar Penjualan
Berapa
rupiah nilai penjualan yang harus diterima untuk mendapat titik impas: FC/ (1 –
(VC/P))* Penghitungan (1 – (VC/P)) biasa juga disebut dengan istilah Margin Kontribusi Per Unit.
BAB III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Studi kasus ini
dilakukan pada tanggal 9 Juni, 2017. Pukul 17.00 WIT, yang bertempat di Desa
Gulakusuma Kec. Sahu Timur Kab. HALMAHERA BARAT.
Dengan luas lahan
10x50m, di dalam lahan terdapat 10 bedengan dengan ukuran 1x50m. Nama Responden
atau Petani Bapak Ismai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
untuk memperoleh data adalah sebagai berikut:
1.
Pena.
2.
Buku.
3.
Kamera.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Faktor Produksi dan Produksi Tomat
A.
Pengunaan faktor
produksi
Faktor
produksi adalah sesuatu yang ditambahkan dalam proses produksi atau segala
sesuatu yang dipergunakan untuk produksi (Rosyidi, 2001). Adapun faktor-faktor
produksi yang diperhitungkan dalam penelitian ini yaitu: sarana produksi
(benih, pupuk, pestisida) dan tenaga kerja.
Biaya
produksi adalah nilai dari semua faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan usahatani
tomat yang terdiri dari biaya variabel yaitu biaya sarana produksi untuk benih,
pupuk, pestisida dan tenaga kerja, sedangkan biaya tetap adalah biaya
penyusutan.
B.
Biaya Sarana Produksi ( Biaya
Variabel )
Benih yang digunakan oleh Pak Ismail
benih tomat yang berjumblah 2 bungkus dengan harga satu bungkus Rp. 200.000, jadi
total harga benih senilai Rp. 400.000
b.
Pupuk
Pupuk yang digunakan Pak Ismail yaitu:
·
Ponska 1 Rp. 150.000
·
TSP 1 Rp. 150.000
·
Mutiara 10 Kg Dengan harga Rp. 35.000/Kg, jadi nilai pupk
ini Rp. 350.000
Dengan demikian total
pupuk yang digunakan berjumblah Rp650.000
c.
Tenaga kerja
Tenaga Kerja
yang digunakan pak Ismail adalah untuk pengolahan lahan berjumblah satu orang
saja dengan harga sewa per hari Rp. 80.000, sedangkan tenaga kerja tersebut di
sewa dua hari sehingga total sewa tenaga kerja Rp. 160.000.
d.
Penyusutan alat
Alat-alat
pertanian yang digunakan pak ismail adalah cangkul, handsprayer, parang, dan
mulsa.
Ø Cangkul 2 Rp. 200.000
Ø Handsprayer 1 Rp.
400.000
Ø Parang 1 Rp. 150.000
Ø Mulsa 1 glungan
Rp. 800.000
Total
biaya penyusutan berjumblah Rp. 1.550.000
e.
Biaya lain-lain
Yaitu, Biaya tali 10
gulngan kecil dengan harga Rp. 1.000/1 gulung. Total Rp. 10.000
4.2 Produksi, Penerimaan, dan
Pendapatan
Berdasarkan hasil pengamatan tomat pak ismail
yang di panen olehnya yang berjumblah 30 peti, sedangkan para pembeli yang mengambil hasil
produksi Pak Ismail hitungannya Rp. 300.000/1 peti
Penerimaan kotor yang
diperoleh Pak Ismail adalah Rp. 9.000.000, untuk mencari pendapatan bersih atau
untung, tidak untung dapat dikurangi antara modal dan untung yang di milik Pak
smail.
Total biaya produksi
berjumblah Rp. 2.470.000 dikurangi dengan hasil atau
pendapatan kotor yang berjumblah Rp. 9.000.000. maka hasil pendapatan bersih
yang di dapat oleh Pak Ismail bernilai Rp. 8.240.000.
RC ratio yang didapat 3,64 yang menunjukkan bahwa RC ratio
bernilai lebih besar daripada 1 maka dapat dikatakan bahwa usahatani yang dilakukan di Desa tersebut adalah menguntungkan. Dan BEP yang didapat adalah -0,539007092.
Tabel Rata-Rata Pendapatan dan Penerimaan Petani
Tomat
|
||
No
|
Uraian
|
Rata-Rata Produksi
|
I
|
Rata-rata Produksi per bulan (peti)
|
30
|
II
|
Harga Jual
|
Rp 300.000,00
|
III
|
Penerimaan tomat
|
Rp
9.000.000,00
|
IV
|
Rata-Rata Biaya Produksi
|
Rp
2.470.000,00
|
a. Biaya Tetap:
|
Rp
760.000,00
|
|
1)
Cangkul
|
Rp 200.000
|
|
2)
Handspayer
|
Rp 400.000
|
|
3)
Parang
|
Rp 150.000
|
|
4)
Tali
|
Rp 10.000
|
|
b. Biaya Variabel :
|
Rp 1.710.000
|
|
- upah tenaga kerja
|
Rp 160.000
|
|
- plastik mulsa
|
Rp 800.000
|
|
- pupuk
|
Rp 350.000
|
|
- Benih
|
Rp 400.000
|
|
Pendapatan
Petani Tomat
|
Rp 8.240.000
|
|
R/C
Rasio
|
3,643724696
|
|
BEP
|
-0,539007092
|
|
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan
hasil studi kasus pendapatan
usahatani yang dilakukan di Desa Gulakusuma Kec. Sahu Timur Kab. HALBAR. Dapat simpulkan bahwa usahatani
yang dilakukan Bapak Ismail, menunjukan menguntungkan, karena modal yang
dimiliki Pak Ismail Rp2.570.000 dan
hasil yang didapat dari Pak Ismail Rp.
8.240.000, maka RC ratio yang
didapat 3,64,
sehingga usahatani Pak Ismail ini dapat dikatakan mngguntungkan.
5.2.Saran
DAFTAR PUSTAKA
Adiwilaga, A. (1982). Ilmu Usahatani. Bandung: Alumni
Anonymous. 2011. http://elwamendri.files.wordpress.com/2011/11/ciri-pertanian-indonesia.pdf. Diakses Pada 15 September 2012
Hansen, R, Don., Mowen, M, Maryanne. 2006. Cost Management Accounting and Control. Fifth Edition. Thomson. Oklahoma.
Hernanto, F. 1996. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya.
Murtiyasni, Winda. 2012. http://wmurtiyasni .blogspot.com/ 2012/05/ perkembangan-sektor- pertanian-di.html. Diakses Pada 15 September 2012.
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.
Raharjaputra, H.S. 2009. Manajemen Keuangan dan Akuntansi. Jakarta. Salemba Empat.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta
Soekartawi. 2000. Pembangunan Pertanian. Rajawali press: Jakarta
Soekartawi. 2002. Teori Ekonomi Produksi dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas, Cetakan Ke 3. Rajawali Press: Jakarta
Soekartawi, A. Soeharjo, John L. Dillon, J. Brian Hardaker. 1996. Ilmu Usaha Tani Dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia. Jakarta.
Supriyono. 2011. Akuntansi Biaya, Perencanaan dan pengendalian biaya,serta pengambilan keputusan. Yogyakarta. BPFE.
Tjakrawiralaksana, A. (1983). Usahatani. Bogor: Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar